Seperti harapan itu, Dulunya Tidak ada
Haruskah kita menyalahkan nurani kita
yang telah
menghempaskan nafas kegelisahan untuk setiap tidak acuh
yang telah
terpendam sekian lama ??
Nurani adalah diri kita .
Kita tidak
dapat berdusta dan membohongi diri sendiri
Biarkan ia mengalir dan mengalir ,
berkelok dan menyimpan keteduhannya.
Keteduhan yang melelapkan , sampai ia
tiada.
Saling membenci dengan menginnkari nurani kita.
Apakah aku terlambat ? ini memang
tampak lebih baik.
Kita mengakhirinya , tapi tidak
memaksa kita untuk mengakhirinya.
Biarlah ia hilang dalam kesenyapan
masa dengan sendirinya,
Seperti harapan itu dulunya tidak
ada.

Komentar
Posting Komentar